Pokja Stunting Kab Mamteng Gelar Evaluasi Data

KOBAKMA-Dalam rangka aksi penanganan dan pencegahan Stunting di daerah Kabupaten Mamberamo Tengah, Kelompok Kerja (Pokja) Stunting Mamberamo Tengah  melakukan Konvergensi Rad Stunting di Aula Kantor BAPPEDA Kabupaten Mamberamo Tengah, Kobakma Rabu (16/12/20).

Rapat evaluasi data stunting diawali dengan pemaparan progress aksi penanganan dan pencegahan stunting yang dipaparkan oleh Koordinator Pokja Stunting Kabupaten Mamberamo Tengah Brury Soisa, SH., M.Si, dalam paparannya Brury Soisa mengatakan tujuan kegiatan konvergensi dan Rad Stunting ini dilakukan untuk evaluasi data stunting pada 7 OPD terkait untuk meningkatkan sistem pengelolaan data stunting, intervensi OPD terkait segera turun. Sehingga kinerja penyelenggaraan stunting dari aksi 1 sampai dengan aksi 8 dapat terukur dan valid baik diawal maupun diakhir nanti. Karena penanganan dan untuk pencegahan stunting ini dilakukan secara terkoordinir, terpadu dan bersama-sama seperti daerah lain yang telah kami kunjungi. Oleh karena itu perlu sumbangsih dan kerjasama dari teman-teman instansi terkait sangat diharapkan untuk di tahun 2021”, uajarnya.

Selanjutnya Sekretaris Daerah Mesir Yikwa, S.AP mengawali pembukaan kegiatan konvergensi dan Rad Stunting tersebut, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada pokja stunting Kabupaten Mamberamo Tengah atas komitmen dan kerja keras sehingga pada tahun 2019 Kabupaten Mamberamo Tengah menjadi Juara 1 untuk tingkat Nasional, sehingga perlu pertahankan prestasi yang dirahi tersebut dan terus berupaya untuk menjadi tetap terbaik. Oleh karena itu rapat evaluasi pada hari  ini perlu adanya kerjasama antara lini sektor dan lini program oleh OPD terkait dalam rangka mencegah stunting yang ada di Mamberamo Tengah, ungkapnya.

Sementara fasilitator dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Ellen Kipnu S.KM  mengatakan tindaklanjut dari dua tahun berturut-turut prestasi yang kita raih harus pertahankan dengan komitmen yang yang kuat, oleh karena itu data dari OPD sangat penting untuk dirampung, jika kita tidak punya data, sulit untuk menentukan lokus yang benar, kata Ellen Kipnu.

Evaluasi dilanjutkan dengan diskusi tentang bagaimana asupan nutrisi bagi balita triwulan pertama sampai dengan balita di usia 2 tahun. Dalam diskusi itu, Ellen Kipnu mengatakan asupan nutrisi faktor paling penting yang berpengaruh langsung terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pengaruh genetik hanya 20%, sehingga perlu pelayanan gizi yang berkualitas pada individu dan masyarakat dan perlu pencegahan terjadinya malnutrisi di puskesmas atau di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya khususnya stunting, maka perlu pendekatan yang lebih strategis untuk kampung-kampung, Lanjut Ellen Kipnu.

Bagikan melalui: